Gimmick #LOCALPRIDE

Home / Article / Gimmick #LOCALPRIDE

Pekan lalu, sneakerhead-sebutan untuk pecinta sepatu sneakers-Indonesia mulai terganggu dengan strategi marketing gimmick dari salah satu brand lokal yang mengusung ‘Sepatu untuk Rakyat’ sebagai jargonnya. Yang bikin para sneakerhead ini geram, jargon tersebut nggak sebanding lurus dengan ketersediaan di pasar dan kualitas yang makin kesini-katanya sih-makin nggak sesuai ekspektasi. Jargonnya memang ‘Sepatu untuk Rakyat’, tapi untuk mendapatkan sepatu ini, gerak sneakerhead pun dibuat sangat terbatas. Pasalnya, brand sepatu ini hanya mengeluarkan kuantitas sepatu yang nggak seberapa setiap kali launching season atau produk baru. Kelangkaan inilah yang lalu membuat pencintanya rela merogoh kocek yang nggak sedikit. Coba bayangkan, sepatu yang tadinya hanya dijual di kisaran 300 ribuan, setelah berada di tangan reseller harga jualnya bisa meningkat sampai jutaan. 

Okelah, kalau masalah eksklusivitas dan item yang terbatas, kami pun masih bisa memaklumi. Yah, namanya juga salah satu bagian dari marketing gimmick. Brand streetwear kenamaan dunia seperti Supreme juga menggunakan teknik marketing gimmick yang sama. Tapi, ketika marketing gimmick tersebut sudah tidak menggambarkan jargon yang diusung, bahkan tidak dibarengi dengan produk yang berkualitas, maka jangan salahkan pasar jika nantinya brand sepatu ini akan kehilangan peminat, bahkan menumbuhkan bibit-bibit haters. 

 

Eh tapi, bukannya semakin banyak haters malah suatu brand akan semakin terkenal? Eits, tunggu dulu. Selamat datang di Indonesia, di mana produk-produk ‘parodi’ dan ‘komikal’ tengah menggeliat dan bertumbuh pesat di pasaran. Belum juga tepat setahun, kini brand ‘Sepatu untuk Rakyat’ tersebut sudah memiliki pesaing yang memparodikan produknya sendiri. Entah hanya untuk seru-seruan saja, atau bahkan gimmick social media marketing baru yang dibangun justru oleh brand ‘Sepatu untuk Rakyat’ itu sendiri, tapi yang pasti si brand pesaing ini terlanjur mencuri perhatian lewat tagline-nya yang savage: ‘Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat’. 

Bicara soal marketing gimmick, sebenarnya makhluk apa sih itu? Dalam artian sesungguhnya, ‘gimmick’ berarti tipu daya. Namun, jika merujuk pada Kamus Oxford, maka gimmick punya arti sebagai berikut:

“A trick or device intended to attract attention, publicity, or business.” 

Jadi sudah jelas ya, gimmick memang ditujukan untuk menarik perhatian publik yang lebih luas dengan cara menciptakan strategi marketing yang tidak biasa. Meskipun punya arti yang negatif yaitu ‘tipu daya’, tapi percayakah kamu bahwa gimmick merupakan bagian dari teknik marketing yang biasa kita temui sehari-hari, bahkan sangkin banyaknya, kita seakan sudah terbiasa dengan strategi marketing satu ini. Namun, apakah gimmick selalu punya image negatif? Sampai mana sih sebaiknya kita menggunakan gimmick atau menghindari gimmick? Yuk, kita bahas satu persatu!

Marketing Gimmick 101

Percaya atau nggak, marketing gimmick is never wrong. Ya tapi tergantung juga sama trik gimmick yang dipakai yah, jangan sampai gimmick yang kita gunakan malah jadi boomerang untuk brand dan produk kita sendiri yah. Kalo untuk seru-seruan dan nggak menyakiti pihak tertentu, ya aman-aman aja sih. 

Kalau kita mau bandingin, sebenarnya teknik gimmick brand ‘Sepatu Untuk Rakyat’ sama halnya marketing gimmick-nya Supreme. Keterbatasan produk Supreme yang diproduksi menjadikan brand Supreme sangat eksklusif di kalangan penggemarnya, atau bahkan pecinta streetwear pada umumnya. 

https://www.youtube.com/watch?v=0O0yi8YgYbs

Ada perasaan ‘pride’ yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika seseorang mengenakan produk dari Supreme. Dengan logo mentereng yang dikenal oleh siapapun, seseorang tersebut pun merasakan betapa eksklusif dirinya ketika mengenakan brand Supreme. Mau tidak mau, dan suka tidak suka, eksklusivitas inilah yang menjadi daya tarik Supreme. 

Bicara tentang gimmick, bukan hanya Supreme yang menggunakan teknik ini. Coba perhatikan sekitarmu. Ada banyak sekali brand-brand terkenal yang marketing gimmick untuk mempromosikan produknya. Seperti halnya trend makeup dan skin care halal ala Wardah atau gagasan gaya hidup sehat ala Rejuve.

Wardah meyakini bahwa halal bukan hanya perihal apa yang kita konsumsi, melainkan apa yang kita gunakan sehari-hari, termasuk skin care dan makeup. Oleh karenanya, Wardah memastikan bahwa produknya mendapatkan label halal agar setiap konsumennya dapat merasa aman. Lain halnya dengan Re.Juve yang mengusung jargon “We help people live a happier life through delicious, healthy and honest.” 

Wardah dan Re.Juve jelas cerdas membaca pasar. Kebanyakan masyarakat di Indonesia, khususnya para wanita, adalah pemeluk agama Islam. Dan lagi, saat itu Wardah merupakan pioneer makeup dan skin care yang bahan dasarnya 100% dijamin halal. Begitu juga dengan Re.Juve. Brand cold pressed juice satu ini seakan mampu mencerna bahwa ‘Wellness’ atau gaya hidup sehat kian digandrungi, baik oleh muda-mudi sampai dengan generasi tua. Di tengah-tengah maraknya produk serba instan, seperti minuman kekinian, Re.Juve hadir sebagai opsi yang lebih sehat. Dilansir dari Marketeers.com, Re.Juve menyajikan proses pengolahan yang bisa dilihat langsung oleh konsumen. Re.Juve juga memiliki cold-pressed production facility with High Pressure Processing (HPP).  Teknologi ini diklaim menjadi yang satu-satunya yang memiliki fasilitas HPP terintegrasi ini di Indonesia, bahkan di kawasan ASEAN.

Gimmick #LocalPride

Seharusnya. Seharusnya sih ya, #LocalPride menjadi hashtag yang bagus banget untuk mengkampanyekan bagaimana bangganya kita menggunakan produk lokal. Namun, nyatanya marketing gimmick yang terlalu ‘memaksa’ dan tidak sesuai dengan slogan yang digaungkan, hanya akan menjadi bumerang untuk brand yang bersangkutan. 

Meski begitu, kita tetap percaya sih, #LocalPride merupakan campaign strategy yang bisa kamu gunakan untuk menyuarakan keunikan brand-mu. Awareness #LocalPride sudah sedemikian luasnya menjangkau berbagai kalangan. Kini, kita bisa temukan berbagai macam produk, mulai dari F&B, fesyen dan bahkan gaya hidup yang berasal dari dalam negeri sendiri, serta menggunakan bahan baku lokal. 

Gaung #LocalPride yang terkesan terlalu gimmick akibat suatu brand tertentu memang disayangkan. Namun, kita tetap bisa kok menggunakan gimmick #LocalPride dengan positif. Berikut beberapa poin yang mesti kamu cek jika kamu ingin menggunakan gimmick sebagai strategi marketing:

– Jangan hanya andalkan sejarah brand-mu. 

– Terus tingkatkan kualitas produk

– Dengarkan apa yang dibutuhkan customer

Nike Air Jordan merupakan study case yang tepat untuk menggambarkan ketiga poin di atas. Semua brand punya cerita dan sejarahnya masing-masing, jadi jangan merasa bahwa cerita dari brand-mu adalah yang paling spesial. Nike Air Jordan adalah salah satu contohnya. Meski berasal dari root yang kuat, Nike Air Jordan sempat kelimpungan ketika beberapa tahun ke belakang era Michael Jordan sudah mulai surut. Nike menyadari bahwa brand-nya tidak bisa terus-terusan menjual cerita Nike Air Jordan sebagai lambang perlawanan kepada generasi yang lebih muda. Oleh karenanya, Nike pun mengatur ulang strategi. Meski masih mengandalkan story yang sama, Nike juga berusaha mendengarkan para generasi muda yang mengidamkan sepatu Nike Air Jordan yang lebih relevan dan trendi. Jika brand sekelas Nike saja mau berbenah dan tidak lelah mendengar konsumen, maka seharusnya brand-brand #LocalPride juga bisa belajar agar tidak melulu mengandalkan segi gimmick hanya untuk menaikkan selling.

 

Artikel diolah dari berbagai sumber:

https://marketeers.com/wellness-gimmick-ampuh-pasarkan-produk/

https://www.businessinsider.com/apples-cleverest-and-most-annoying-marketing-gimmick-2010-12?IR=T

https://www.forbes.com/sites/steveolenski/2018/03/09/not-just-another-brand-gimmick/#3f7f97a6b2b8

YouTube Business Insider’s: Why Nike Air Jordans Are So Expensive https://www.youtube.com/watch?v=cXeQJBghvRw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + eight =